
“Aku sedang mencari cincin permataku yang hilang!”
“Dimana hilangnya?”
“Tadi terjatuh di dalam gudang!”
“Lho … kenapa dicari di luar gudang?”
“
Dengan wajah yang bengong sambil geleng-geleng kepalanya temannya itu lalu pergi meninggalkan Nasrudin yang melanjutkan pencariannya.
Cerita ini hanya merupakan sebuah anekdot dari sebuah teguran yang dilakukan oleh Nasrudin Hoja yang dikenal temannya sebagai seorang sufi yang nyentrik dan keren dalam memberi perumpamaan dengan berani tampil beda.
Manusia kadang sering mencari sesuatu tidak pada tempatnya. Sebagai contoh orang-orang yang sibuk mencari kebahagiaan, namun anehnya mereka malah tertipu oleh gemerlapnya dunia sehingga sampai akhir tetap tidak menemukan kebahagiaan dalam gemerlapnya dunia. Mereka inilah orang-orang yang bingung dalam kehidupannya dan terpedaya hingga sampai akhir hatinya tetap menjadi gersang, merintih dan menderita.
Sementara itu orang-orang yang telah mendapatkan kebahagiaan sejati sebagaimana dikatakan oleh Al-Qur’an, “Yaitu orang-orang yang senantiasa berzikir dalam posisi duduk, berdiri, maupun dalam keadaan berbaring”.
Kalau kita bisa mengambil hikmah yang terkandung dari kisah di atas maka kita tidak akan terjebak dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Mengapa? Sebab bagaimana mungkin kita mencari barang yang hilang di dalam ruang yang gelap namun kita mencarinya di luar ruangan karena terang.
Seperti yang disampaikan dalam pribahasa bahwa Kebahagiaan itu tidak usah dicari kemana-mana, dan tidak usah kau kejar kemana-mana. Sebenarnya kebahagiaan ada dalam hati sanubarimu sendiri.