Menagatasi Anak Mogok Sekolah Melalui Metode Family Centred Teraphy
Wah…wah…wah…. kalimat seperti itu nampaknya sering kita dengar dan bahkan mungkin sering juga kita saksikan ditengah lingkungan sekitar kita. apalagi bagi mereka yang memiliki anak yang masih berusia dibawah 5 tahun mungkin hal ini menjadi masalah “besar” bagi ortu.
Masalah mogok sekolah ini adalah hal yang wajar dan lumrah terjadi pada anak-anak. pada masa ini adalah masa orientasi psikologis dan sosial bagi anak ditengah lingkungan sosialnya. tetapi jika masalah itu berlanjut dan cenderung menetap hingga hitungan 3 bulan berarti ada “gangguan” psikologis.
Gangguan psikologis ini adalah reaksi psikologis yang distimulasi dari lingkungan terdekat anak yang un comfotable sehingga anak memunculkan perilaku baru yang dianggap nyaman bagi dirinya. Imbas dari reaksi psikologis itu termanifestasi dalam bentuk konasi yaitu “mogok sekolah”
Nah kalau si kecil sudah mogok sekolah, tentunya “bunda” khawatir banget dan bingung cari cara untuk merayu agar si kecil mau sekolah lagi. Jika hal-hal ini terjadi pada anak Anda, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melalui identifikasi masalah, seperti bagaimana persepsi dan kondisi lingkungan sekolah yang terjadi menurut anak. pancing agar anak mau bercerita tapi ingat….!!! tidak boleh evaluatif atau “mendikte”. pergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 2 arah agar terbangun pemahaman antara anak dengan anda dan disarankan biasakan memanggil “nama” bukan dengan sub status pada anak (seperti adik, mas, mbak dll).
posisikan anak sebagai “mitra/teman komunikasi” bukan sub ordinat yang harus selalu patuh dan taat tanpa adanya unsur edukatif. karena sesungguhnya anak adalah “satu individu yang utuh dan unik” yang memiliki karakteristik dan kepribadian tersendiri. jadi jangan di “bentuk” atau dipaksa sesuai dengan keinginan orangtua.
berikan pengakuan akan keberadaan anak ditengah keluarga dengan mengajak bicara, bermain, bercerita, menonton TV bersama, makan bersama dan sebagainya. berikan reward dan punishmen yang proporsional dan edukatif jangan berlebihan. Dengarkan keluh kesah anak dan berikan penguatan moril jangan memotong pembicaraan yang disampaikan anak atau menjustifikasi sehingga anak semakin bingung.
bangun dan buatlah sebuah habbits baru dengan mencontohkan perilaku yang positif dan dapat dijadikan modeling bagi anak. cara membangun dan membentuk habbits baru adalah dapat dilakukan melalui pembagian tugas dan dikerjakan bersama-sama secara adil dan proporsional bukan dengan model instruktif. Memberitahu dan mencontohkan perileku yang positif dari perilaku negatif yang dimunculkan anak, buikan dengan evaluatif. terakhir catatlah setiap perubahan perilaku anak selama menjalani terapi ini. memang sangat dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan.
Penulis adalah Psikolog di Lembaga Hasiibu Counsulltan Malang